Orang sering bilang, kita tidak akan pernah tahu kapan pintu hati sesorang akan diketuk, kapan pintu hati tersebut akan terbuka, kapan orang lain akan masuk ke dalam pintu tersebut dan tinggal diam di dalam hati.
Pada saat seorang sahabat masa kecil datang menyapa, pintu hati tersebut masih menyapa sebagai seorang sahabat. Seorang sahabat karib yang tidak pernah putus hubungan, namun tidak terlalu dekat pula setelah dipisahkan oleh jarak dan lingkungan yang berbeda. Namun rasa sayang itu perlahan tapi pasti berubah. Rasa itu sekarang makin lengkap dengan perasaan ingin memiliki, ingin saling menjagai, saling mendukung, saling menyemangati, dan rasa takut kehilangan.
Rasa yang terakhir berusaha dipendam sedemikian rupa, namun tak kunjung berhasil. Rasa yang sama yang akhirnya memutuskan untuk tidak mempertanyakan perasaan. Rasa yang sama yang membuat mereka menghabiskan waktu bertanya-tanya dalam diam. Akhirnya diam kalah dan rasa tersebut menyuarakan isi hatinya.
Masih tercenung saat dirinya dengan lugas membuat pernyataan hatinya. Lalu dalam diam mencerna kata-kata tersebut. Lantas sebuah pertanyaan muncul, “sejak kapan status itu berubah?”. Dijawab dalam kondisi serius santai dengan sebuah pertanyaan kembali, “masih perlu ditembak? Aku akan ‘nembak’ kamu sekarang. Kamu mau jadi pacarku gak?”. Senyum merekah disertai dengan anggukan dan senyum itu tak bisa lepas dari bibir.
I’m in love with my best friend.