I am..

This is my essay as one of the requirement for Miss UPH Scholar 2008.. Well, I can’t pass the interview for the big 20 though.. But, this is one of my exciting experience.. Enjoy..

MISS UPH SCHOLAR 2008 : DUA SISI YANG TAK TERPISAHKAN

Pertama kali saya melihat pengumuman tentang Miss UPH Scholar 2008, timbul banyak pertanyaan dalam diri saya. Kualitas yang seperti apa yang harus dimiliki seorang Miss UPH Scholar 2008? Berangkat dari pertanyaan itu, saya menilik diri saya.

Sebagai seorang mahasiswi, tugas saya yang paling utama adalah menempuh pendidikan S-1 saya dengan baik. Tetapi kemampuan akademis saja tidaklah cukup, maka dibutuhkan kemampuan-kemampuan lain seperti kemampuan interpersonal maupun intrapersonal dengan baik. Dengan mengembangkan kemampuan-kemampuan tersebut lewat interaksi dengan sesama, saya menemukan bahwa saya adalah orang yang mudah terhanyut oleh perasaan kasihan. Disamping itu saya suka membantu orang untuk mengatasi kesulitan-kesulitannya. Rasanya tidak baik meninggalkan teman yang sedang kesulitan begitu saja tanpa memberikan pertolongan apa-apa. Terkadang saya mendengarkan orang tersebut bercerita panjang lebar tanpa bosan. Selain itu saya adalah pekerja keras, karena apapun yang saya inginkan biasanya akan tercapai. Walaupun melewati proses yang panjang dan sulit, saya tidak mudah menyerah karena saya mengetahui tujuan akhir saya dengan pasti. Berusaha untuk menghargai orang dan mencoba merasakan beban yang orang lain rasakan, serta terus mengucap syukur kepada Tuhan untuk apapun yang terjadi adalah hal yang saya lakukan terus menerus. Manusia tidak dapat hidup sendirian karena Tuhan telah membentuk kita sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu keberadaan keluarga, sahabat serta teman adalah hal yang penting dalam menempuh kehidupan ini.

Setiap aspek dalam kehidupan memiliki dua sisi yang tak terpisahkan. Manusia pun memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Izinkan saya untuk memulai dengan kekurangan saya. Saya adalah orang yang takut berada dalam lingkungan yang baru, takut merasa tidak cocok dengan lingkungan tersebut. Dalam hal ini saya selalu berusaha untuk melakukan apa yang paling saya takuti untuk dilakukan, tentu saja hal yang positif. Sesuai dengan motto saya, “Lakukan apa yang paling takut kamu lakukan.” Di saat-saat yang kritis bahkan saya harus didorong untuk melakukan sesuatu. Adanya inisiatif tanpa didukung oleh langkah nyata tidak akan berarti apa-apa. Maka dari itu dorongan dari orang-orang disekitar saya sangat besar pengaruhnya. Namun pada saat saya sudah memutuskan sesuatu, orang lain pun tidak akan dapat mengganggu gugatnya, disitulah letak keras kepala saya. Kekurangan yang lain adalah pada saat saya sedang asyik membaca buku, secara tak sadar saya tidak menyadari keberadaan orang-orang disekitar saya. Terkadang teman saya memanggil berkali-kali baru bisa menyadarkan saya. Tepatnya, saat saya fokus pada suatu hal, fokus tersebut tidak mudah dipecahkan oleh orang lain. Namun terkadang sulit juga memindahkan dari fokus yang satu ke fokus yang lainnya dalam waktu yang cepat.

Seorang pemimpin haruslah tegas. Begitu pula dengan ketegasan saya yang sering disalah artikan sebagai kegalakan. Ketegasan menurut saya adalah tindakan dimana kita memegang teguh prinsip dan tidak mau diubah oleh orang lain. Ketegasan juga merupakan salah satu bentuk integritas. Integritas sendiri berarti dapat melakukan apa yang sudah ia janjikan. Selain itu menjadi pendengar yang baik untuk orang-orang disekeliling saya adalah salah satu hal yang menjadi kelebihan saya. Dengan mendengar orang kita belajar untuk semakin sabar dan bijaksana dalam melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang. Pada akhirnya akan memperkaya analisis kita dalam mengambil keputusan yang terbaik. Keputusan yang saya ambil pun sulit untuk dipengaruhi oleh orang lain. Tetapi seluruh informasi yang diterima tidak boleh diterima mentah-mentah. Kita harus tetap mencari bukti konkret yang mendukung informasi tersebut. Jangan sampai mengambil keputusan berdasarkan hal yang tidak pasti kebenarannya. Pemikiran yang terbuka dan mempunyai wawasan umum yang cukup luas membuat saya mengerti hal-hal yang kritis dan dapat memberikan opini yang sederhana namun tepat pada sasaran. Ditambah dengan sifat rendah hati dan mau bergaul dengan segala lapisan juga menjadi nilai tambah bagi saya.

Memberikan opini adalah pekerjaan yang tidak mudah. Diperlukan pemikiran yang tajam untuk memberikan opini yang tepat. Menurut saya, UPH sebagai institusi pendidikan harus terus membenahi diri untuk meningkatkan kualitas pengajaran. Selain itu saat ini fokus konsumen UPH adalah mahasiswa selama mereka masih kuliah di UPH. Bahkan lebih cenderung memfokuskan diri kepada anak-anak SMA yang diprospek untuk menjadi mahasiswa UPH. Padahal UPH harus menjadi fasilitator mahasiswa untuk terjun ke dunia kerja dalam masyarakat yang sebenarnya. Membina mahasiswa juga tidak sekedar keahlian akademis namun juga secara karakter dan perilaku. Mata kuliah wajib yang harus kita ambil seperti Learning and Communication Skill, Leadership, Character Development, dan Pendidikan Agama hanya akan lewat begitu saja tanpa mengubah paradigma yang salah. Untuk itu diperlukan penerapan nilai-nilai yang kuat dalam hal cara belajar serta cara penyampaian materi tersebut. Tidak sedikit universitas di Indonesia yang menjunjung tinggi indeks prestasi, padahal indeks prestasi belum tentu merepresentasikan kemampuan yang dimiliki oleh orang tersebut. Dosen yang hanya memberikan ilmu secara teoritis juga tidak berpengaruh banyak dalam mengasah logika berpikir. Dosen haruslah kreatif dan up-to-date dalam bidangnya masing-masing. Bukan dosen yang hanya asal mengajar, tetapi juga bisa mengajak mahasiswa untuk mencintai mata kuliah tersebut. “Tak kenal maka tak sayang,” begitu pula dengan mahasiswa yang tidak diperkenalkan dengan baik terhadap mata kuliah tertentu, mahasiswa tersebut tidak akan menerima apapun yang menurutnya akan berguna dikemudian hari. Tetapi UPH memiliki kelebihan berani tampil beda dengan kampus yang lain. Dengan slogan “Kampus Bersih”, UPH mendidik masyarakatnya untuk tidak merokok. Selain itu fasilitas yang diberikan cukup lengkap untuk mendukung proses belajar mengajar. Berjalan berdasarkan iman Kristiani, memantapkan UPH sebagai universitas yang memiliki prinsip dan dasar yang teguh untuk terus melangkah mengembangkan sayap ke kanan dan ke kiri, serta menjadi terang untuk banyak orang.

Hal yang paling sulit untuk dijawab adalah pantaskah saya untuk menjadi Miss UPH Scholar 2008. Melihat diri saya saat ini dengan segala kekurangan dan kelebihannya sepertinya saya mampu bertanggung jawab mengemban tugas sebagai Miss UPH Scholar 2008. Disamping itu saya memiliki visi untuk meningkatkan mutu pendidikan di UPH yang tidak hanya sekedar memberikan ilmu tetapi mencetak pemimpin-pemimpin di masa yang akan datang dengan karakter dan integritas yang baik. Selain itu saya bisa menjadi mediator antara konsumen dalam hal ini mahasiswa UPH serta calon mahasiswa UPH dan produsen yang dalam hal ini adalah UPH. Sikap pendengar yang baik dan melihat suatu masalah dari banyak sudut pandang memperlengkapi saya untuk membuat keputusan yang baik untuk menyelesaikan suatu masalah. Serta tidak cepat percaya pada apa kata orang tanpa didukung oleh bukti yang jelas.

Advertisements

4 thoughts on “I am..

  1. Hi, Audi. Your essay looks good. You’re a Miss UPH candidate? From which faculty?
    I’m also from UPH, Faculty of Medicine, but I’ve got plenty of friends taking other majors at UPH.
    Good luck, girl.

  2. Hi Anna.. Thanks a lot for your comment..
    I am from Industrial Engineering (2005)..
    I was only passed the interview stage, that was the big 50.
    There are two candidates from Medicine became two of the 20 finalists of Miss UPH rite, if i’m not mistaken.
    God bless Anna…
    nice to meet you..

  3. Saya rasa jika hanya sebatas pantas dan tidak pantas, anda tentunya pantas..Hanya saja masalahnya siapakah yang “dianggap” lebih pantas..Karena ajang miss UPH hanya mencetak miss UPH saja, bukan misses..
    3 B, atau ketika kampanye tercipta lagi menjadi 8 B belum mencukupi untuk menjadi miss UPH. masih butuh:
    1. eksistensi. Anda tidak akan menjadi seorang miss UPH, jika anda sendiri tidak menunjukkan eksistensi anda. Karena itu berarti anda “tidak tampak”.Hehe…
    2. Kesempatan. Miss Indonesia pun tidak akan menjadi seorang miss UPH, karena dia tidak memiliki kesempatan itu

    Namun visi anda masih masih bisa dicapai bahkan tanpa menjadi seorang miss UPH. Kita masih bisa membuat perubahan di kampus ini bahkan ketika kita tidak memiliki posisi. Pemimpin tidak harus selalu ada di depan, tengah, ataupun belakang. Dia bisa bahkan di balik layar.

    Pemimpin adalah orang yang didengar. Maka perdengarkanlah visi anda. Inspire others to walk on the same direction, and let’s make a difference in UPH..
    Hoho..

    Essay jangan cuma jadi tulisan. It’s an idea, an inspiration. It’s your tought. So, make it real..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s