Jazz Village 2008 – Part 2 (24.04.08)

Panggung yang besar dan berdiri dengan kokohnya serta dikelilingi oleh tenda-tenda hijau yang seakan menyatu dengan suasana kampung yang berusaha diusung oleh acara Jazz Village 2008 ini. Acara yang diselenggarakan oleh BEM UPH ini menyuguhkan musik jazz dengan suasana yang lebih ‘merakyat’ karena image jazz di kalangan masyarakat Indonesia adalah musik untuk kalangan atas saja. Sebut saja Java Jazz atau Jak Jazz yang membutuhkan ‘kocek’ ratusan ribu untuk dapat mendengarkan permainan musik jazz yang dibawakan oleh musisi-musisi Jazz baik musisi Indonesia maupun musisi mancanegara.

Matahari sudah berdiri tegak diatas kepala kita, saat itu kita dikejutkan oleh permainan saxophone Wawan. Didaulat untuk menjadi opening performance Jazz Village sekaligus sebagai ajak publikasi untuk acara puncak Jazz Village 2008 yang dimulai sore hari pukul lima. Dilanjutkan dengan duet gitar oleh Seele-heiler yang membawakan lagu-lagu gospel. Setelah aksi panggung mereka yang heboh, kehebohan digantikan dengan musik-musik jazz dari CD sampai akhirnya pukul lima sore pun tiba.

Suasana petang yang mulai memancarkan aura romantis didukung dengan penampilan panggung The G (The Geronimo) yang memukau penonton. Semakin malam semakin ramai. The Geronimo mengajak penonton untuk ikut andil dengan request lagu jazz kesukaan mereka. Setelah itu panggung diambil alih oleh The Doctors. Kumpulan para dokter yang berasal dari Universitas Indonesia ini memiliki kegemaran yang sama dalam bermusik, yaitu dengan memainkan lagu-lagu beraliran jazz. Tidak disangka-sangka, image seorang dokter yang selama ini berkutat dengan buku-buku kedokteran yang tebal, orang yang kutu buku serta orang yang serius tersebut bisa memainkan lagu-lagu jazz sedemikian indahnya. Keterpukauan penonton terpancar dari applause yang diberikan. Akhirnya, setelah sabar menunggu begitu lama Ireng Maulana and friends yang mencoba menggetarkan Plaza gedung D UPH dengan suguhan-suguhan musik mereka yang mengejutkan.

Kala itu, malam sudah merambat turun. Matahari sudah menyembunyikan dirinya dari pandangan digantikan oleh terang bulan. Di meja-meja sudah menyala mangkok-mangkok lilin dari bambu untuk memperkuat kesan romantis yang ‘ndeso’. Selagi Ireng Maulana and friends check sound, Johan dan Susan selaku MC mengajak penonton untuk mendengarkan penuturan Sherly O tentang perjalanan kariernya bersama Ireng Maulana. Selain itu Sherly O juga membagi-bagikan CD recording Jak Jazz kepada penonton yang berhasil menjawab pertanyaannya dengan benar.

“Ini (Jazz Village, –red) adalah permulaan yang baik,” kata Ireng Maulana seraya mencairkan suasana malam itu, “saya berharap hal ini bisa dilakukan kembali tahun depan.” Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata permainan Ireng Maulana, Kiboud Maulana, Didiek SSS, Harry Toledo, Sam Panuwun, dan Sherly O. Mereka berhasil membius suasana malam itu dengan suguhan permainan musik mereka. Akhirnya suasana desa jazz itu ditutup dengan permainan kembang api dan tepuk tangan yang meriah dari seluruh penonton. Semua orang berharap Jazz Village 2009 akan segera terealisasi.

-dhi-

Advertisements

3 thoughts on “Jazz Village 2008 – Part 2 (24.04.08)

  1. Let me know if your album is about to be released,, i’ll write it in my blog!! God bless you Andrew and Dave.. Go Seele Heiler!!

    -dhi-

  2. yep…thx to listening and supporting us…as soon as possible we will be able ti play at Chapel…We will bring also our free demo at there…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s