Kalau saya jadi Jenderal…

Pagi ini seperti biasanya kami sekeluarga berkumpul di meja makan untuk sarapan. Sambil sarapan biasanya akan meluncur suatu topik pembicaraan yang menarik. Topik biasanya berasal dari perilaku orang-orang disekeliling kami masing-masing. Biasanya bercerita bergantian dan satu sama lain akan memberikan pemikiran serta ide-ide akan masalah tersebut.

Adikku, Ariel atau biasa kupanggil riel, dia bercerita tentang salah satu temannya di sekolah. Temannya membuat satu pernyataan seperti ini, “Nanti kalau gw udah jadi Jenderal, semua orang Cina gw deportasi”. Untung adikku sudah belajar untuk menahan emosi dan bisa berpikir secara logis, akhirnya dia membalikkan kalimat temannya itu dengan pernyataan, “Paling negara ini (Indonesia, –red) bangkrut kalo gak ada orang Cinanya.” Mengapa orang Indonesia benci sekali dengan orang Cina? Padahal kami juga warga negara Indonesia, lahir dan dibesarkan di Indonesia, hidup dan mencari nafkah pun di Indonesia. Kenapa kami harus didiskriminasi seperti itu? Semua ada sebabnya..

Pada zaman penjajahan Belanda, orang cina menjadi mediator antara orang Belanda dan orang pribumi Indonesia. Secara tak langsung, orang pribumi menganggap kalau orang cina memiliki banyak kemudahan dari kompeni untuk menekan rakyat pribumi. Sedangkan orang Belanda tidak mau berhubungan langsung dengan pribumi untuk menjaga citra diri mereka. Maka dari itu, orang Cina yang terjepit di tengah-tengah. Berawal dari situlah, pribumi mulai membenci orang Cina.

Diperparah pada masa Orde Baru (Orba), Pemerintahan Soeharto tidak mengizinkan orang Cina untuk berkecimpung di dunia politik, sosial, budaya, apalagi pertahanan dan keamanan. Hanya satu peluang yang terbuka untuk si cina-cina ini, ekonomi. Didukung oleh etos kerja yang ulet, pandai mengatur uang, dan pekerja keras, jadilah raksasa-raksasa ekonomi Indonesia dipegang oleh orang-orang cina. Sebut saja seperti keluarga Salim dan Ciputra, mereka adalah produk konglomerasi pada zaman Orba. Lagi-lagi Cina disalahkan sebagai mesin pengeruk harta rakyat Indonesia.

Kami tidak pernah menyesal berada di Indonesia, kami sudah mencintai Indonesia sebagai bangsa kami sendiri. Untuk kembali ke RRC pun bagi kami adalah sesuatu hal yang mustahil. Tetapi mengapa perlakuan terhadap orang-orang cina masih sedemikian buruknya? Tidak seburuk zaman Orba memang, dan kami sangat berterimakasih kepada Gus Dur yang sudah mendobrak pintu bagi orang-orang cina dengan memperbolehkan budaya cina kembali tumbuh di Indonesia. Sebagai negara yang terdiri dari banyak suku bangsa, seharusnya Indonesia berbangga hati dan melestarikan budaya-budaya tersebut. Dan berjalan sebagai satu kesatuan yaitu satu negara, satu bangsa, dan satu bahasa namun tidak menghilangkan segala aspek kebudayaan masing-masing suku bangsa. Bangsa kita adalah bangsa yang kaya, hanya saja kita tidak pernah peka untuk menyadari kekayaan bangsa kita, kekayaan budaya kita.

-dhi-

Advertisements

3 thoughts on “Kalau saya jadi Jenderal…

  1. Hihihi…. boleh2…. emang kesian orang Cina di Indonesia (anyway, jangan bilang Cina ya… orang keturunan di sini lebih seneng dibilang Tionghoa ^^ Sama nelpun ke kedubes Cina jangan sekali-kali bilang itu kedubes Cina tapi kedubes RRC)

    Satu hal yang mengugah gw itu pas dosen gw, Pak Ignatius Wibowo ngomong, “Memangnya jadi pedagang itu cita-citanya orang Cina ?” itu hal terakhir dan menurut ajaran konfusius yang menjadi akar pemikiran budaya Cina sendiri aja sangat mengkritik pedagang. Pedagang dijadikan kelas masyarakat terbawah karena suka menipu. Malahan pelajar dijadikan kelas paling baik yang ada di masyarakat menurut konfusianisme. Walaupun ini perkataan jaman dahulu, tapi memang uniknya, perkataan inilah yang menjadi dasar menjalankan kehidupan oleh orang-orang Cina.

    Lucunya, orang Indonesia (yang notabene pribumi itu) hanya bisa ngiri dan karena kehidupan ekonomi yang tertekan sehingga mudah sekali tersulut. Ada yang manasi sedikit aja langsung deh terjadi yang macam-macam dan apa akibatnya sekarang ? Tragedi! Trauma! yang mungkin tidak akan bisa hilang dari hati dan pikiran orang-orang Cina di Indonesia tersebut…. (loh…. koq gw jadi nulis di comment orang) wkwkkw…. sekian…

    BTW, kaku aje tulisan lo di… 🙂

  2. Wew,, anak sastra Cina beda lah ya…
    Aduh, gw sedang belajar secara sadar ji untuk nulis kayak cerita sama temen. Tapi susah.. coba lu tulis ulang deh ide gw, tunjukkan tulisan yang gak kaku tuh kayak apa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s