Untitled #5

Pesan Dari Conrad…

Mesin cetak itu adalah teman kita yang terbaik.
Mereka ada bahkan sejak jaman dosen-dosen kita masih kuliah.
Mereka masih bisa bekerja dengan baik.
Jadi jangan salahkan mereka untuk kegagalan yang kalian terima.

Memang mereka umur mereka sudah tua.
Tapi mereka masih dapat mengerjakan tugas mereka.
Memang mereka sudah renta.
Tapi mereka tetap labih dari sekedar onggokan instrumen besi belaka.

Mereka masih setia menemani kita di setiap waktu.
Di setiap tengat semester, di sepanjang tahun sejak kita masuk hingga nanti kita beranjak dan mungkin kembali lagi.

Kita membutuhkan mereka, begitu pula adik-adik kita nanti.
Mungkin juga kalian di suatu kesempatan lain.

Mungkin kalian nanti bisa dengan gampangya pergi meninggalkan mereka tanpa pamit.
Tapi bagaimana dengan adik-adik kita yang belum mengenal mereka.

Adalah kewajiban kita untuk mewariskan jiwa.
Adalah keharusan kita berbagi nyawa.

Bahwa proses berkarya merupakan suatu ritual.
Bahwa setiap peralatan yang kita punya merupakan modal.

Sadari keberadaan mereka di sana sebagai anugrah atas kekurangan kita untuk memiliki.
Sadarilah bahwa mereka merupakan akses menuju kemudahan, walau jangan pula sampai terninabobokan.

Rawatlah mereka, peliharalah mereka, bersikap baiklah pada mereka.
Atau setidaknya mulai dari bertanya “di mana letak kelalaian saya?”
Setiap kali hasil cetakan yang kita terima tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Karena adalah bodoh untuk memaki mesin yang tidak bernyawa.

Karena setiap hal kecil dalam instrumen grafis menentukan hasil akhir karya.
Karena satu kelalaian berpotensi pada kegagalan sia-sia.
Karena bukan tangan kalian yang mengaplikasikan tinta.
Karena bukan karena kecerdasan kalian hingga warna itu ada.

Karena seni grafis adalah ars multiplicata.
Selalu persiapkan diri sebelum berkarya, dan jangan pernah kehabisan tenaga sebelum semua kembali seperti sedia kala.
Selalu lakukan uji coba sebelum akhirnya beranjak pada edisi pertama.
Selalu jajarkan setiap cetak karya agar kalian tahu letak kekurangannya.

Saat semua orang mendewakan kemudahan dan melarikan diri pada era digital.
Bukan merupakan kutukan jika kita harus memahami teknik konvensional.

Karena langgam dan instrumentasi setiap studio berbeda.
Dan dalam studio kita, berbagi merupakan irama tanpa jeda.

Untuk semua alat yang ada di sana adalah hak kita untuk menggunakannya tanpa kita harus membeli
Jadi selalu bersihkan mereka kembali seperti saat sebelum kita gunakan
Jika alasan digunakan orang lain menjadi pembenaran kalian enggan membersihkan dan duduk berpangku tangan
Maka ucapan terimakasih pertama selayaknya dilayangkan pada kalian untuk setiap keberhasilan dan jerih payah adik-adik kita mendatang.

*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*&*

Pagi ini iseng membuka chat di facebook. Sesegera setelah kotak itu terbuka, mataku tertuju pada satu nama yang tertera di paling atas. Gw membaca statusnya terlebih dahulu. Secara tak sadar sebenarnya membaca status-status dirinya itu mencerminkan apa yang sedang terlintas di otaknya *walau tak jarang gw ngerti apa maksud statusnya tanpa gw bertanya terlebih dahulu*

Statusnya pagi ini : “Maka, saat kalian berada pada lantai grafis, bersikaplah selayaknya seniman grafis.” Berdasarkan statusnya itu maka gw menyapa dia “hei seniman grafis” lalu mulai bergulirlah percakapan tentang tulisan yang baru saja dia tulis semalam di blog pribadinya.

Gw mulai membuka blog nya sambil tetap chat dengannya. Selesailah membaca, dan gw terinspirasi untuk dua hal.
1. “Bahwa proses berkarya merupakan suatu ritual. Bahwa setiap peralatan yang kita punya merupakan modal.” by Conrad & co (merek mesin press).
Saat ini harusnya gw sudah memulai proses kreatif membuat skripsi gw. Peralatan yang gw punya sudah lengkap baik otak, imajinasi, tangan untuk menari-nari di atas keyboard atau meliuk-liuk indah di atas kertas, mata untuk menangkap momen-momen indah dan penting, telinga untuk mendengar kalimat-kalimat indah dan bunyi-bunyian yang menenangkan, hidung untuk mencium segala benda yang berbau di sekeliling gw, lidah yang merasakan enaknya makanan yang dibuat dengan perasaan cinta seorang Ibu untuk menjaga kesehatanku pada kondisi yang prima, dan akhirnya kulit untuk merasakan apapun yang terjadi di sekeliling gw dengan sentuhan. Hanya saja, ritual itu belum dimulai dan harus segera dimulai.
2. “Maka, saat kalian berada pada lantai grafis, bersikaplah selayaknya seniman grafis.” – tulisan dengan tinta merah di atas roller si Conrad.
Gw memang bukan seniman grafis, gw memang tidak bersentuhan dengan yang namanya mesin press untuk menghasilkan cetakan. Namun bila ‘lantai grafis’ diganti dengan ‘kondisi berpikir’ dan ‘seniman grafis’ diganti dengan ‘seorang pemikir’. Tetapi tak berhenti menjadi seorang pemikir namun harus segera dituangkan ide-ide yang berterbangan dengan liar di alam bawah sadar otak berpikir ke dalam suatu media yang membekukan ide-ide tersebut.

Ps : note ini didedikasikan untuk teman gw yang sedang berjuang menghadapi etsa-nya, teman-teman gw yang menunggu sidang akhir, teman gw yang sedang berkejaran dengan waktu karena tanggal 8 sudah pameran karya tugas akhirnya, dan teman-teman seperjuangan gw yang sedang mengerjakan skripsinya. Tak lupa teman-teman yang sudah memasuki tahapan kehidupan selanjutnya, yaitu bekerja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s