Simfoni Hujan

Titik-titik airHujan itu dicintai sekaligus dibenci. Saat ini, saat hujan sedang turun membasahi bumi, aku mencintai hujan karena saat ini aku berada di rumah. Aku menikmati hujan dengan cara memandanginya dari jendela kamar, mencium bau tanah basah yang khas, mendengar setiap rintik hujan yang jatuh ke atap rumah. Sesekali aku mengulurkan tanganku keluar untuk merasakan rintik hujan yang jatuh ke tanganku atau tak sengaja rintik itu jatuh ke atas kepalaku.

Tak jauh dari rumahku, ada seorang teman yang berharap agar hujan segera reda. Dia terus memandangi langit di teras rumahnya. Lalu melalui kecanggihan teknologi kami berkomunikasi membahas tentang hujan, katanya, “Awannya masih banyak yang rendah. Artinya kemungkinan hujannya masih tinggi tapi karena sudah mulai pecah (awannya mulai pecah, -red) gak akan deras lagi. Kalaupun deras gak akan lama kecuali anginnya dari selatan ke utara. Awan gelapnya nyampe ke kita juga nanti. Mudah-mudahan enggak”.

Aku pun duduk termenung memandangi awan, mencoba mencari tanda-tanda awan yang sudah mulai pecah. Namun tak membuahkan hasil, hujan tetap membasahi bumi.

Ps : tulisan ini didedikasikan untuk buncit, si dukun cuaca. 😀

12November2009 1:02:46pm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s