DEJAVULMARO

Senja sore itu aku ditemani secangkir matcha latte kesukaanku. Pandanganku jatuh ke kotak sepatu tempat aku menyimpan foto-foto polaroid. Foto-foto yang ada hanyalah foto dua pasang kaki di berbagai tempat dan satu foto tangan yang berpengangan erat.

Sekejap kemudian aku melihat seorang anak perempuan memakai baju terusan kotak-kotak berwarna hijau. Umurnya mungkin tidak lebih dari tujuh tahun. Aku hanya bisa melihat punggung anak kecil itu. Tampak olehku dia mengejar bocah laki-laki yang berada tak jauh dari dirinya. Terdengar si anak perempuan itu meneriakkan “Vul, Vul, tunggu..”. Sekelebat aku bisa menatap wajah bocah laki-laki tersebut saat dia menengok ke belakang.

“Deja, sayang.. Deja.. Ayo bangun sayang..” kata Ibu yang sayup-sayup kudengar sambil mengguncang-guncang tubuhku. Lantas aku membuka mata perlahan-lahan lalu ibu berkata, “Sayang, ada yang menunggumu di ruang tamu.” Ibu langsung bangkit dari tempat tidurku menuju ke pintu kamarku, membiarkan aku dalam kebingungan.

Lima menit kemudian akhirnya aku duduk di tepi ranjangku. Masih dengan rasa penasaran aku berjalan ke arah ruang tamu. Ibu sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Rasanya aku mengenali suaranya. Tetapi tak mungkin dia ada disini sekarang, bukankah dia ada di negeri orang yang jauhnya ribuan kilometer dari Indonesia?

Aku menyembulkan kepalaku dari balik partisi ruang tamu dan tercengang. Di hadapanku, Ibu tersenyum lebar dan seorang laki-laki yang tak kuduga. Laki-laki itu lekas merengkuh aku dalam pelukannya lantas mengecup dahiku, “Aku pulang, Dejavu.” Aku masih diam dalam pelukannya tanpa kata-kata, namun aku merasa pipiku dialiri sesuatu yang hangat. Lelaki itu mempererat pelukannya, “Aku pulang, sayang.” Tangisku makin menjadi, aku melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya erat. Dia mengelus-ngelus rambutku, mencium ubun-ubunku, menenangkanku. Dia memapahku ke arah sofa, membuat kami berdua duduk di sofa tanpa melepaskan pelukannya.

“Aku bermimpi, seseorang memanggilku, menyuruhku menunggu. Sering sekali mimpi itu terjadi,” katanya saat tangisku mereda, “Akhirnya aku sadar arti mimpi itu. Kamu, Deja, kamu yang memanggilku. Aku ingat janji kita 12 tahun yang lalu, aku sekarang kembali untuk menjemputmu.” Aku masih diam seribu bahasa, melihat kedua bola mata beningnya yang sedang memandangi aku. Tanganku meraih pipi kanannya, mencubit pipinya, lalu aku mencubit diriku sendiri. Aku berusaha membangunkanku dari mimpi, ini kenyataankah? Tampaknya dia bisa membaca pikiranku, dia berkata, “Aku nyata, Deja. Aku ada disini sekarang, kamu tidak bermimpi lagi.”

“Vulmaro,” akhirnya hanya kata itu yang sanggup keluar dari mulutku. Dia hanya tersenyum melihatku, kembali mengelus-ngelus rambutku. Kedua matanya masih menatap tajam mataku. Tatapan lembut penuh kasih sayangnya selalu membuat aku tak dapat berpaling darinya.

Pikiranku langsung melayang ke mimpiku selama ini. Ternyata selama ini mimpiku adalah tentang kami berdua. Vul yang kupanggil di dalam mimpi adalah dirinya. Kami berdua berpisah dua belas tahun yang lalu saat dirinya ikut orang tuanya ke daratan Eropa. Saat itu dia berkata, “dua belas tahun lagi aku akan datang menjemputmu Deja, aku sayang kamu.” Sejak detik keberangkatannya sampai dua belas tahun kemudian, aku berpegang teguh pada janji yang dia berikan itu.

“Menikahlah denganku, Deja” katanya tanpa melepas tatapannya dari mataku. Kalimat tersebut membawa aku tersadar dari lamunanku. Muka terkejut segera mengganti muka melamunku.

“Kamu mau kan?” Tanya Vulmaro lebih lanjut. Aku tersenyum, mengangguk, dan menitikkan air mata bahagia lalu masuk dalam pelukan hangatnya.

Aku melihat Ibu yang berdiri tak jauh dari partisi ruang tamu, matanya berkaca-kaca bahagia. Kami bertiga berpelukan bahagia.

Advertisements

One thought on “DEJAVULMARO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s