2 Oktober 2010

Kebiasaan yang cukup buruk untuk dipelihara adalah menunda-nunda. Sudah beberapa kali aku kehilangan ide menulis karena menunda waktu menulis, menomorduakan waktu untuk menulis. Berdasarkan hal itu, kali ini aku menulis lagi tentang sahabat.

 

Dulu aku menulis tentang teman, sahabat https://4ud1.wordpress.com/2009/08/20/sekolah-kehidupan-4/. Perlu dicatat baik-baik, kami belum pernah tatap muka, tapi kami merasa cocok berbicara satu sama lain. Sudah beberapa kali kami berusaha untuk bertemu, tapi selalu tidak pernah terealisasi. Pernah hampir bertemu saat kami sama-sama berada di satu mall yang sama, bahkan di satu areal yang sama, tetapi ironisnya aku tak bisa bertemu dengannya. Akhirnya, kemarin (2/10) adalah pertemuan perdana.

 

Tanpa perencanaan yang ‘njelimet’ dan sifat impulsif, akhirnya kami bertemu di sebuah kedai kopi. Jabat tangan, saling bertukar nama dan cengar cengir pecicilan. Janggal, aneh, canggung. Untungnya ada topik pembicaraan saat itu, jadi dia bisa berceloteh panjang lebar. Dia berceloteh sambil sibuk memakai kembali sepatunya, sibuk dengan tali sepatunya. Terlihat gugup. Aku cuma menjadi pendengar yang baik lalu sesekali mengomentari. Pertemuan perdana ini tak bisa berlangsung lama, karena aku akan menonton dengan dua teman wii. Sejurus kemudian berakhirlah percakapan kami dengan baik.

 

Aku sedang mengantri di salah satu stall makanan saat aku melihat hp ku. Tertera disana namanya dengan pesan kurang lebih seperti ini ‘pertemuan singkat yang aneh’. Aku mengulum senyum lalu membalas, ‘sebenarnya aku sudah memprediksi kalau kita akan canggung’. Dia membalas ‘iya’. Lalu apa maksud pesan singkat di hp tersebut?

 

Selama ini kami berhubungan melalui facebook, yahoo messenger, lalu berkembang melalui bbm, lalu email, lalu sms dan telepon. Ada yang aneh? Ya, aneh, karena menurutku biasanya orang berkenalan akan bertukar nomor telepon terlebih dahulu. Apa yang kami lakukan hampir berkebalikan dengan pakem yang sudah ada. Selama kurang lebih satu setengah tahun, praktis kami cukup ‘kenal’ satu sama lain. Pekerjaan, kesukaan, friends in common, kebiasaan buruk, cara pikir, dan banyak topik pembicaraan lain yang pernah dibahas baik secara general maupun in depth. Saking ‘nyambung’nya, dia sudah seperti sobat lama yang sudah bersahabat bertahun2. Topeng, aling-aling, sudah tak pernah kupikirkan. Yah, seperti layaknya seorang sahabat, aku menerima dirinya sebagai satu paket (sifat, kelakuan, cara pandang, cara bicara, rasa humor, dkk). Bahkan perbedaan pendapat pun tidak menyurutkan apapun. Justru aku semakin ‘kenal’ dirinya. Semoga dia merasa hal yang sama :p

 

Advertisements

2 thoughts on “2 Oktober 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s