Merdeka!!!

 

Setiap perjalanan solo biasanya menyenangkan. Seperti perjalanan kali ini. Dimulai dari diskusi bersama dua orang berkewarganegaraan Malaysia. Yang satu, sempat mengenyam pendidikan kedokteran di Bandung. Sedangkan yang lainnya senang dengan orang-orang Indonesia yang dia sebut ramah dan pernah mengunjungi beberapa kota di Indonesia. Berawal dari mereka mengeluh kemacetan ibukota. Saya sebisa mungkin menjelaskan penyebabnya. Lalu saya merasa agak lucu pada saat mereka bertanya apa etnis saya? Saya jawab, “indonesian-born-chinese”.  Pertanyaan selanjutnya lebih mencengangkan lagi, “kamu cinta negara ini?” Saya jawab, “saya lahir dan hidup disini, saya rasa saya tidak punya alasan untuk tidak mencintai negara ini.” Mereka terlihat kaget setelah mendengar penjelasan saya bahwa saya tidak bisa berbahasa Mandarin, apa yang menyebabkan hal itu, dan diskriminasi apa saja yang didapat oleh kami warga negara keturunan.

 

Selama di perjalanan menuju Paris van Java ini saya sempat memikirkan pertanyaan mereka. Tapi sudahlah, semoga mereka sering berkunjung ke Indonesia. Mereka sudah punya rencana untuk mengunjungi kota-kota lain di Indonesia. Sepanjang perjalanan, saya sempat membaca dua buah novel. Itu suatu kemewahan untuk saya. Di hari-hari kerja normal, mustahil rasanya untuk membaca sepulang kerja.

 

Lalu kesempatan untuk bertukar pikiran dengan adik semata wayang saya. Tak terasa bahwa dia bukan anak kecil lagi, dia tumbuh menjadi pribadi dewasa muda yang luar biasa. Meski secara jarak kami terpisah ribuan kilometer dan perbedaan waktu beberapa jam, kami selalu berusaha untuk ngobrol.

 

Dan yang terutama adalah waktu untuk diri saya sendiri. Waktu untuk mencari titik seimbang antara pribadi yang dituntut bertanggung jawab penuh akan pekerjaan dengan pribadi yang bebas mengejar impian-impian terpendam.

 

Membaca, mendengarkan musik, menulis dan bepergian mungkin menjadi terapi yang ampuh untuk saya. Saya rasa dengan mencintai diri kita sendiri terlebih dahulu, kita bisa melihat dunia ini dengan perpektif yang berbeda (dan harapan saya bisa melihat dari perspektif yang lebih baik).

 

Saya, saya sendiri sadar masih punya banyak kekurangan. Tapi saya selalu ingat kata-kata tante saya. Begini katanya, “Kamu tahu, semakin tua biasanya sifat manusia hanya semakin jelek. Kamu masih muda, maka dari itu berusahalah untuk menjadi pribadi yang semakin baik dari hari ke hari. Karena pada saat kamu sudah tua, kamu hanya akan bertambah buruk setiap harinya”.

 

Bermimpilah setinggi mungkin, katanya. Bercita-cita menjadi panutan orang banyak itu mulia. Namun berangkat dari satu langkah kecil, yaitu mengubah diri kita menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya.

 

Saya tak berani muluk untuk mengatakan akan mengubah dunia. Namun saya berjanji untuk terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

 

Setujukah kalian?

 

Mari kita menyatukan langkah menjadi pribadi yang selalu berjalan ke arah yang positif, mudah-mudahan hal kecil yang kita lakukan, apapun profesi kita, bisa menjadi inspirasi untuk orang lain.

 

Mari kita membangun Indonesia yang lebih baik, dimulai dari diri kita sendiri.

 

Merdeka!!!

 

Bandung, 15 Agustus 2014

 

Catatan kecil menjelang peringatan Kemerdekaan negara kita tercinta.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s